Beberapa waktu lalu teman saya datang dari Bandung dan kami sepakat bertemu di sebuah restoran di Botani Square. Setelah memesan makanan, beberapa kali datang seorang pramusaji yang menanyakan pesanan kami. Apakah sudah lengkap atau masih ada yang kurang. Mulanya biasa saja. Sampai suatu saat saya tergelitik membaca tulisa di name tag-nya karena tulisan itu sangat besar untuk kartu seukuran kartu pos itu. Tulisannya berbunyi “Checker Table”. Baru kemudian saya berpikir, barangkali karena pekerjaannya adalah menge-check meja (dalam bahasa Inggris disebut table), ia disebut checker table.
(more…)
Terjadi lagi. Saya membaca surat kabar berbahasa Indonesia dan sebagai orang Indonesia saya jadi bingung dibuatnya. Saya tidak tahu, apakah anda juga mengalami kebingungan yang sama.
(more…)
Beberapa hari yang lalu saya diajak sahabat saya, WKF, mengikuti acara napak tilas yang diselenggarakan Komunitas Napak Tilas yang memiliki slogan “Nyukcruk galur mapay laratan” dalam ekspedisi bertajuk Napak Tilas VI: Jejak Tradisi Megalitik di Gunung Salak. Dan seperti sebuah kebetulan, ajakan ini datang tatkala saya absen jalan pagi dan senam selama beberapa minggu. Hitung-hitung rapel olah raga.
Begitulah ungkapan yang sering saya dengar dan baru-baru ini saya membuktikan kebenarannya. Sesuatu yang ditangani oleh ahlinya memang lebih efisien. Bukan hanya hemat waktu, ternyata bisa juga menghemat tenaga dan uang. Lega sekali rasanya setelah tiket yang saya perlukan ada di tangan. Semua bisa selesai dalam waktu yang relatif singkat dan ternyata jumlah yang harus saya bayar lebih sedikit dibanding jika saya mencarinya sendiri.