<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>utamiutar.boogoor.com</title>
	<atom:link href="http://utamiutar.boogoor.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://utamiutar.boogoor.com</link>
	<description>blog of an ordinary woman with you, extraordinary people, as readers</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 13:40:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Bahasa dan Kuasa dalam Novel Anak Sejuta Bintang</title>
		<link>http://utamiutar.boogoor.com/2012/02/bahasa-dan-kuasa-dalam-novel-anak-sejuta-bintang/</link>
		<comments>http://utamiutar.boogoor.com/2012/02/bahasa-dan-kuasa-dalam-novel-anak-sejuta-bintang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 13:10:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utami utar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Sejuta Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[analisis wacana kritis]]></category>
		<category><![CDATA[critical discourse analysis]]></category>
		<category><![CDATA[Fairclough]]></category>
		<category><![CDATA[Locke]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utamiutar.boogoor.com/?p=928</guid>
		<description><![CDATA[Novel sebagai sebuah teks dapat dilihat dari berbagai sudut, salah satunya dengan memakai kacamata analisis wacana kritis atau critical discourse analysis, yang oleh Fairclough dikatakan memiliki tujuan “…to systematically explore often opaque relationships of causality and determination between (a) discursive practices, events and texts, and (b) wider social and cultural structures, relations and processes; to investigate how such practices, events and texts arise out of and are ideologically shaped by relation of power and struggles over power (Fairclough, 1995). Dengan demikian, novel dapat dianggap sebagai manifestasi relasi antara teks itu sendiri dengan struktur sosial dan budaya sebagai latarnya, melalui bahasa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul buku          : Anak Sejuta BIntang<br />
Penulis               : Akmal Nasery Basral<br />
Penyunting         : Khrisna Pabichara<br />
Penerbit              : Expose (2012)</p>
<p>Novel sebagai sebuah teks dapat dilihat dari berbagai sudut, salah satunya dengan memakai kacamata analisis wacana kritis atau <em>critical discourse analysis</em>, yang oleh Fairclough dikatakan memiliki tujuan “…<em>to</em><em> systematically explore often opaque relationships of causality and determination between (a) discursive practices, events and texts, and (b) wider social and cultural structures, relations and processes; to investigate how such practices, events and texts arise out of and are ideologically shaped by relation of power and struggles over power </em>(Fairclough, 1995). Dengan demikian, novel dapat dianggap sebagai manifestasi relasi antara teks itu sendiri dengan struktur sosial dan budaya sebagai latarnya, melalui bahasa.<br />
<span id="more-928"></span></p>
<p><img class="alignleft" title="ASB" src="http://img403.imageshack.us/img403/3469/asbl.jpg" alt="" width="403" height="279" />Tulisan ini mencoba melihat beberapa peristiwa yang dialami Ical, sang tokoh utama, yang dengan bahasanya baik verbal maupun non-verbal menunjukkan kepemilikan kuasa tersebut. Dengan latar waktu sekitar tahun 1950-an, pemaparan mengenai keadaan sosial keluarga menjadi awal pijakan pemikiran bahwa kekayaan yang dimiliki membuatnya menjadi sang pemilik kuasa.</p>
<p>Digambarkan dalam novel ini bahwa keluarga Ical adalah keluarga kaya, dengan mobil yang mengantarkannya ke sekolah dan villa sebagai tempatnya berlibur. Untuk bisa berlibur di villa, yang letaknya dekat dengan istana presiden, tentu tak  dilakukan sembarang orang pada jaman itu. Dengan keadaan yang demikian, Ical kecil bisa melakukan dan mendapatkan sesuatu yang mustahil bagi orang lain pada masa itu. :  memanggil dokter pribadi jika sakit (hlm. 64-65), masuk ke istana presiden (hlm. 86), berlibur ke villa setiap pekan (91), sepatu kulit untuk ke sekolah semasa masih di taman kanak-kanak (hlm. 95), sepeda mini yang tinggal pilih dan tunjuk mana yang sesuai selera sebagai syarat mau memakai peci (hlm. 156-157), berlatih judo (hlm. 246), apel dan anggur yang menumpuk di kulkas (hlm. 268), bintang tamu di acara radio (hlm. 277), pergi ke Singapura (hlm. 305) dan liburan ke mana saja sebagai hadiah lulus sekolah (hlm. 389) .</p>
<p>Sebagai pembaca dan seorang ibu, saya tidak melihat kentalnya nilai pendidikan sebagaimana dituliskan di bagian endorsement buku ini. Dari sisi Ical, justru ada beberapa hal yang kurang mendidik, misalnya saat ia memberikan amplop kepada anak buah papanya karena telah membantunya, yang terlihat dalam kutipan berikut.</p>
<p>“Buat ongkos, Om,”  bisiknya sambil memasukkan amplop itu ke saku kanan celana yang dipakai Hasan. “Ingat, Papa dan Mama tidak boleh tahu rencana ini!” (hlm. 346).</p>
<p>Perilaku seperti ini bukan cara yang positif karena akan tertanam dalam benak si anak bahwa ia akan mendapatkan apapun yang diinginkannya asal ia menyediakan imbalan.</p>
<p>Jika dimaksudkan sebagai referensi pendidikan yang patut dibaca guru, orang tua dan pendidik sebagaimana tertulis di halaman awal, tulisan yang terangkai dalam 23 bab dan tersaji dalam 400 halaman ini kurang memainkan perannya. Bahkan ketika Ical kecil menjadi juara kedua, pemaparan di halaman 386-389 justru memberikan kesan sebaliknya.</p>
<p>Teks terkait dengan konteks dan akan saling memengaruhi. Teks dapat dibentuk sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, seperti diutarakan oleh Locke (2004) yang menggambarkan teks sebagai sesuatu yang bersifat relatif, dapat dikonstruksi dan diubah. Nah, siapa yang bisa mengkonstruksi dan mengubah? Tentulah bukan saya, karena saya hanya pembaca.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utamiutar.boogoor.com/2012/02/bahasa-dan-kuasa-dalam-novel-anak-sejuta-bintang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>James Bond Sopir Idaman</title>
		<link>http://utamiutar.boogoor.com/2012/01/james-bond-sopir-idaman/</link>
		<comments>http://utamiutar.boogoor.com/2012/01/james-bond-sopir-idaman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 11:59:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utami utar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Australia Trip]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan Blogor]]></category>
		<category><![CDATA[angkot]]></category>
		<category><![CDATA[bogor]]></category>
		<category><![CDATA[bogor tourist information center]]></category>
		<category><![CDATA[brisbane]]></category>
		<category><![CDATA[international conference on translation and cross-cultural communication]]></category>
		<category><![CDATA[lone pine koala sunctuary]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan blogor]]></category>
		<category><![CDATA[university of queensland]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utamiutar.boogoor.com/?p=920</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah anda merasa sedih saat berpisah dengan pak sopir yang baru anda temui? Saya pernah. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah tulisan ketujuh dari Grup Hitam <a href="http://blogor.org/2011/12/06/cerita-berantai-2-bogor/">Cerita Berangkai #2</a>. Tulisan sebelumnya dibuat oleh <a href="http://ronawajah.wordpress.com/2011/12/06/surat-cinta-buat-walikota-bogor/">Tb. Sjafri Mangkuprawira</a>, <a href="http://mataharitimoer.blogdetik.com/2011/12/09/anak-negara-inspirasi-buat-lagu-sby/">Mataharitimoer</a>, <a href="http://chandra.im/mimpi-bogor.html">Chandra Iman</a>, <a href="http://serujadiguru.blogdetik.com/2011/12/15/pusat-kuliner-di-bogor/">Erfano Nalakiano, </a><a href="http://bogorwatch.wordpress.com/2011/12/23/ibu-ibu-yang-berada-di-jalanan/">Nonadita</a>, dan <a href="http://dieyna.wordpress.com/2012/01/10/pasar-kaget-pemda-menikmati-macet-mingguan-dan-sisa-sampah-di-akhir-pekan/">Jun Dieyna</a>. Tulisan ini memang catatan perjalanan saya, namun harapan bahwa kita bisa belajar sesuatu dari sini tentu tetap ada. Selamat menikmati, sama seperti saya menikmati perjalanan itu beberapa waktu lalu.</p>
<p><span id="more-920"></span><br />
Bulan Desember lalu saya mengikuti <a href="http://www.slccs.uq.edu.au/index.html?page=156662">konferensi internasional</a> di Brisbane. Konferensi yang diikuti oleh perwakilan dari berbagai ini berlangsung dua hari namun karena baru mendapat penerbangan keesokan harinya, saya jadi punya kesempatan jalan-jalan.</p>
<p>Kota Brisbane terletak di negara bagian Queensland. Dan Queensland, sebagaimana wilayah Australia lain,  memiliki daya tariknya tersendiri dengan pantainya yang memukau. Salah satunya adalah Gold Coast. Awalnya, saya pun berniat mengunjungi pantai ini. Namun, berbekal rekomendasi penduduk lokal, akhirnya pilihan jatuh ke Sunshine Coast di pesisir utara Queensland. Pantai ini kabarnya masih perawan, tidak seperti Gold Coast yang sudah terlalu ramai oleh turis, baik asing maupun domestik.</p>
<p>Setelah sarapan, yang disediakan dari pukul 07.00-08.00, saya dan seorang teman berangkat dengan bis bernomor 109 dari UQ Lake (halte di lingkungan University of Queensland yang dekat dengan danau) menuju kota. Di sini kami disambut sapaan hangat pak sopir. Dia juga bercerita dalam bahasa Indonesia bahwa istrinya berasal dari Indonesia. Sampai di kota, dia memberitahu kami beberapa info penting mengenai kota Brisbane.</p>
<p>Pagi itu kota masih sepi karena baru sekitar pukul 09.00. Setelah beberapa waktu kami berjalan menyusuri beberapa blok dan ruas jalan, barulah semakin banyak toko yang buka. Kami sempat mengunjungi beberapa toko sovenir karena barang yang dicari teman saya tak kunjung kami temukan. Untunglah, saya bisa kontak teman dari <a href="http://ppi-australia.org/">PPIA</a> yang sudah tinggal beberapa lama di kota ini sehingga tak lama kemudian barang yang dicari sudah di tangan.</p>
<p>Selanjutnya, ‘berburu&#8217; koala dan kangguru. Yang pertama kali kami lakukan adalah mencari Visitor Information Centre di pusat kota. Pelayanan yang ramah membuat kami merasa sebagai tamu yang sangat dinantikan oleh tuan rumah. Mereka sangat membantu dan memberikan informasi yang diperlukan. VIC ini dilengkapi dengan ratusan  brosur yang memenuhi dinding dan beberapa rak, yang ditempatkan baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Mereka memberikan potongan harga jika kita membeli tiket tempat wisata di VIC. Tiket masuk ke Lone Pine Koala Sunctuary, misalnya, bisa kita dapatkan dengan harga $AUS 30, lebih murah $AUS 2 jika dibandingkan membeli di tempat. Potongan juga akan diberikan jika kita bisa menunjukkan kartu pelajar.</p>
<p>Jarak dari Brisbane ke Lone Pine Koala Sunctuary memakan waktu sekitar 40 menit dengan bis. Di sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang sangat menyegarkan, dengan pepohonan di kiri dan kanan jalan. Rumah-rumah dari kayu menambah keindahan tersendiri. Mereka sangat bangga bercerita bahwa di Brisbane rumah-rumah seperti itu masih dipertahankan.</p>
<p>Sampai di lokasi, kami hanya menunjukkan bukti pembelian tiket yang kami dapat dari VIC di pusat kota, dan mereka memberikan peta kebun binatang tersebut disertai <em>rundown</em> acara pertunjukan. Selain koala dan kangguru, di sini juga bisa ditemui beberapa binatang yang sama dengan di tanah air. Karena tujuan awal hanya mencari koala dan kangguru, kami tidak menjelajah seluruh area. Setelah bertemu kangguru dan menggendong koala, yang harus membayar lagi (paling murah $AUS 16$, tergantung ukuran foto yang diinginkan), kami bersiap menuju halte bis. Hanya satu atraksi yang sempat kami nikmati, yaitu atraksi biri-biri dan anjing, mirip sekali dengan film <strong>Shaun The Sheep</strong>.</p>
<p>Dari situ kami meneruskan perjalanan ke pantai. Karena untuk menjangkaunya harus naik kereta, dari bis Lone Pine Koala Sunctuary-Brisbane ini kami turun di halte yang ada di Roma Street. Dari situ tinggal menuruni tangga karena stasiun kereta Roma Street tepat di bawah halte bis.</p>
<p>Di loket, kembali kami disambut dengan senyum ramah pak penjual tiket. Mereka juga memberitahu bahwa menuju Sunshine Coast memakan waktu lebih dari dua jam, jadi perlu dipertimbangkan lagi untuk pergi ke sana dan langsung pulang lagi ke kota karena saat itu sudah hampir jam 16.00. Setelah menghitung waktu dan berbekal info mengenai jadwal kereta yang kembali ke kota, akhirnya kami memutuskan tetap pergi.</p>
<p>Tiket sudah di tangan dan kami bersiap menikmati perjalanan kereta dengan melewati 35 stasiun. Dan karena jaraknya yang tidak dekat, lebih dari 107 km, sekitar pukul 18.00 kami baru sampai di Nambour, stasiun ke 35. Dari Nambour kami naik bis ke arah pantai. Di sinilah cerita dimulai.</p>
<p>Bis nomor 610 yang kami tunggu akhirnya datang. Senyum pak sopir yang ganteng menyegarkan sore kami. Dia bilang siap mengantar kami sampai ke tempat yang paling indah. Tempat inilah yang biasa dikunjunginya jika sedang libur bekerja.</p>
<p>Di saat bis berhenti, kami bicara banyak hal, sampai akhirnya kami tahu kalau dia sempat mendapati dua ekor ular di halaman rumahnya hari sebelumnya. Ditunjukkannya foto ular, halaman dan rumahnya yang sangat besar dengan kolam renang di depannya dan mobil mewah terparkir di garasi. Pak sopir yang berasal dari Inggris ini juga sempat bercerita kalau dirinya memiliki dua paspor. &#8220;Biar seperti James Bond&#8221;, katanya.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 432px"><img title="http://img840.imageshack.us/img840/1957/bersamapaksopir.jpg" src="http://img840.imageshack.us/img840/1957/bersamapaksopir.jpg" alt="" width="422" height="316" /><p class="wp-caption-text">bersama pak sopir, David Upperdine</p></div>
<p>Pukul 19.00 sampailah kami di pantai yang bernama Mooloolaba. Dia sempat menelpon ke dinas transportasi setempat untuk memastikan kereta terakhir menuju kota sebelum akhirnya menawarkan menjemput kami sekitar pukul 19.30, setelah jam kerja atau<em> after hour.</em></p>
<p>Rasanya penat dan capek terbayar sudah setelah melihat pantai yang begitu indah dengan pasir putih dan lingkungan yang super bersih dan udara yang segar. Tak apalah menggigil karena angin yang bertiup sangat kencang asal puas menikmati hamparan pantai sepanjang itu. Selain turis asing, terdapat juga banyak warga setempat yang menikmati udara sore.</p>
<p>Waktu ‘penjemputan’ pun tiba. Saat kami asyik mengobrol, pak sopir memanggil dari seberang jalan dan perjalanan pulangpun kami mulai, dengan suasana yang lebih hangat dari sebelumnya. Dia menawarkan mengantar kami ke stasiun ke 30, Landsborough.</p>
<p>Setelah sampai di stasiun, dia memberikan kami tiket kereta dari Landsborough ke kota Brisbane dan mengatakan bahwa karena kami adalah temannya maka kami tak perlu membayar ongkos bis dari Mooloolaba ke Landsborough. Dia juga memberikan alamat email dan meminta kami menghubunginya jika datang kembali ke sana.</p>
<p>Perpisahan dengan pak sopir terasa seperti perpisahan dengan teman lama. Sedih. Iseng teman saya bertanya, mengapa dia begitu baik kepada kami, jawabnya sungguh membuat saya semakin &#8216;hormat&#8217;. Dia bilang, “Karena saya tidak bisa mengajar seperti kalian, yang bisa saya berikan hanya servis sebaik yang saya bisa.”</p>
<p>Kembali ke kota kita tercinta, barangkali pihak pemilik otoritas membaca tulisan ini, ada beberapa pelajaran dari cerita di atas terkait dengan pariwisata.<br />
1.	Perilaku SDM yang terkait dengan transportasi, misalnya sopir angkot, tukang ojeg, tukang becak dan kusir delman, sangat mungkin ditingkatkan. Hal ini bisa dimulai satu per satu, misalnya sopir angkot dulu. Sopir ini juga berfungsi sebagai duta wisata.<br />
2.	Sistem<em> ticketing</em> yang terintegrasi di VIC (kita punya Tourist Information Center di Taman Topi), yang terlebih dulu ditingkatkan kinerjanya. Jangan pelit-pelit memberi diskon.<br />
3.	Berlakukan harga yang sama untuk turis domestik maupun turis asing, baik ongkos transportasi maupun tiket masuk ke objek wisata. Di kota Bogor tercinta ini, saya melihat sendiri sopir angkot yang meminta bayaran 5 kali lipat kepada turis asing. Kusir delman juga  menaikkan tarif begitu tahu saya mengajak teman dari Belanda. Belum lagi mahasisiwa asing di tempat saya mengajar kerap diminta membayar tiket ke tempat wisata sampai 10 kali lipat.</p>
<p>Hal kecil yang dilakukan jika diakumulasikan akan menjadi gerakan yang dahsyat. Kami cinta Bogor, dan tulisan seperti ini adalah salah satu wujudnya. Dari Grup Hitam, teman saya <a href="http://antisimpel.com/">Miftah</a> akan merangkai rantai berikutnya.</p>
<p>Terima kasih sudah membaca catatan perjalanan ini. Salam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utamiutar.boogoor.com/2012/01/james-bond-sopir-idaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resolusi</title>
		<link>http://utamiutar.boogoor.com/2011/12/resolusi/</link>
		<comments>http://utamiutar.boogoor.com/2011/12/resolusi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 03:43:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utami utar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utamiutar.boogoor.com/?p=882</guid>
		<description><![CDATA[Saat menjelang pergantian tahun seperti ini orang biasanya beramai-ramai membuat resolusi. Bentuknya bisa macam-macam. Ada yang bilang ingin menikah, ingin langsing, mau rajin kuliah, mau tepat waktu, mau lebih produktif, ingin penerbitkan buku, mau belajar memasak, dan banyak resolusi lain yang tertulis di dinding teman-teman saya. Itu resolusi mereka. Resolusi saya? Kalau anda mengaitkannya dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat menjelang pergantian tahun seperti ini orang biasanya beramai-ramai membuat resolusi. Bentuknya bisa macam-macam. Ada yang bilang ingin menikah, ingin langsing, mau rajin kuliah, mau tepat waktu, mau lebih produktif, ingin penerbitkan buku, mau belajar memasak, dan banyak resolusi lain yang tertulis di dinding teman-teman saya. Itu resolusi mereka. Resolusi saya?<br />
<span id="more-882"></span><br />
Kalau anda mengaitkannya dengan tahun baru, jawaban saya: tak ada. Saya lebih suka menyebutnya rencana. Ketika membuat rencana saya merasa berjanji kepada diri sendiri untuk memenuhi rencana itu. Berusaha sebaik-baiknya menikmati proses dan menyerahkan hasilnya kepada Sang Maha Penentu, dengan tetap bersikap fleksibel terhadap keadaan darurat yang tak bisa dihindari. </p>
<p>Anda boleh tidak setuju dengan saya. Tahun baru kok tidak punya resolusi. Coba kita tengok definisi resolusi, yang saya kutip dari beberapa sumber berikut ini.</p>
<p><a href="http://dictionary.cambridge.org/dictionary/british/resolution_1?q=resolution">Cambridge Online Dictionary</a>: resolution:<br />
[C] an official decision that is made after a group or organization have voted to approve/adopt a resolution<br />
[C] a promise to yourself to do or to not do something</p>
<p><a href="http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php">KBBI</a>: resolusi:<br />
putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yg ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tt suatu hal</p>
<p>Nah, tak menyinggung tahun baru, kan? Jadi, apa rencana anda tahun depan? </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utamiutar.boogoor.com/2011/12/resolusi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laba-laba dan Jaring Kesayangannya</title>
		<link>http://utamiutar.boogoor.com/2011/12/laba-laba-dan-jaring-kesayangannya/</link>
		<comments>http://utamiutar.boogoor.com/2011/12/laba-laba-dan-jaring-kesayangannya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 17:30:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utami utar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[charlotte's web]]></category>
		<category><![CDATA[elwyn brooks white]]></category>
		<category><![CDATA[laba-laba dan jaring kesayangannya]]></category>
		<category><![CDATA[penerbit dolphin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utamiutar.boogoor.com/?p=838</guid>
		<description><![CDATA[Barangkali anda heran, tahun terbitnya 2012 tapi saya sudah bisa membuat ulasannya sekarang, di tahun 2011. Rahasianya adalah karena buku ini sampai ke tangan saya sore ini berkat kesempatan yang diberikan kepada saya sebagai salah satu penulis endorsement. Bunch of thanks goes to Salahuddien Gz. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="http://img824.imageshack.us/img824/1255/swebz.jpg" src="http://img824.imageshack.us/img824/1255/swebz.jpg" alt="charlotte's web" width="184" height="259" />Judul: Laba-laba dan Jaring Kesayangannya<br />
Judul asli: Charlotte&#8217;s Web<br />
Pengarang: Elwyn Brook White<br />
Penerjemah: Dina Begum<br />
Penerbit: Dolphin (2012)</p>
<p>Barangkali anda heran, tahun terbitnya 2012 tapi saya sudah bisa membuat ulasannya sekarang, di tahun 2011. Rahasianya adalah karena buku ini sampai ke tangan saya sore ini berkat kesempatan yang diberikan kepada saya sebagai salah satu penulis endorsement. Bunch of thanks goes to <a href="https://www.facebook.com/salahuddiengz">Salahuddien Gz.</a><br />
<span id="more-838"></span><br />
Buku ini melengkapi kebahagiaan yang saya alami hari ini, setelah seharian saya mengajak anak-anak ke Jakarta menikmati suasana lalu lintas Jakarta yang agak lengang di hari natal ini. Kami pergi naik kereta dan transjakarta, ke dua toko buku di Plaza Indonesia dan Grand Indonesia.</p>
<p>Mengapa saya katakan melengkapi? Karena buku ini memang cocok dibaca oleh pembaca segala umur. Saya jadi punya kesempatan bagus memamerkan kisah si laba-laba baik hati, Charlotte, dan teman-temannya ini kepada anak-anak saya. Tak hanya ceritanya yang menghibur, banyak nilai moral yang diajarkan di sini tanpa terkesan menggurui.</p>
<p>Kisahnya dimulai saat lahirnya seekor babi kerdil bernama Wilbur, yang membuatnya hampir dibunuh oleh pemiliknya, Pak Arable. Wilbur akhirnya terselamatkan oleh Fern, putri Pak Arable yang berumur delapan tahun. Saat berumur lima minggu, Wilbur sudah menempati rumah barunya, di tumpukan pupuk kandang di bawah lumbung keluarga Zuckerman.</p>
<p>Di sinilah petualangan dimulai. Ia berkenalan dengan banyak teman: sapi, angsa, domba, tikus, dan Charlotte, si laba-laba yang baik hati. Charlotte-lah yang menanamkan banyak nilai moral kepada teman-temannya. Melalui kepandaian, ia mengajarkan rasa setiakawan dan persahabatan. Demi sahabat, kita harus rela berkorban, bahkan berkorban sesuatu yang berharga sekalipun. Barang bisa kita cari lagi tapi teman yang baik akan sulit kita temukan, seperti kisah Templetton si tikus yang harus mengorbankan telur koleksinya demi menolong sahabatnya.</p>
<p>Charlotte adalah tokoh idaman di sebuah kehidupan. Ia pandai, baik hati, tidak sombong, suka menolong, tidak menganggap rendah orang lain dan percaya bahwa masing-masing dari kita punya potensi. Tokoh seperti ini layak menjadi penyelamat di dunia manapun.</p>
<p>Seperti yang saya tulis di endorsement, walau berlatar budaya Amerika, novel ini berhasil mengusung nilai moral universal. Tak heran jika buku yang pertama kali diterbitkan di tahun 1952 ini adalah buku anak terlaris sepanjang masa dan sudah pula diterjemahkan ke dalam 23 bahasa.</p>
<p>Semoga kita bisa bersikap seperti Charlotte, menjadi berkah dan rahmat bagi sesama di manapun kita berada.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utamiutar.boogoor.com/2011/12/laba-laba-dan-jaring-kesayangannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Table checker</title>
		<link>http://utamiutar.boogoor.com/2011/12/table-checker/</link>
		<comments>http://utamiutar.boogoor.com/2011/12/table-checker/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 14:24:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utami utar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[restoran]]></category>
		<category><![CDATA[rumah makan]]></category>
		<category><![CDATA[table checker]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utamiutar.boogoor.com/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu teman saya datang dari Bandung dan kami sepakat bertemu di sebuah restoran di Botani Square. Setelah memesan makanan, beberapa kali datang seorang pramusaji yang menanyakan pesanan kami. Apakah sudah lengkap atau masih ada yang kurang. Mulanya biasa saja. Sampai suatu saat saya tergelitik membaca tulisa di name tag-nya karena tulisan itu sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu teman saya datang dari Bandung dan kami sepakat bertemu di sebuah restoran di Botani Square. Setelah memesan makanan, beberapa kali datang seorang pramusaji yang menanyakan pesanan kami. Apakah sudah lengkap atau masih ada yang kurang. Mulanya biasa saja. Sampai suatu saat saya tergelitik membaca tulisa di name tag-nya karena tulisan itu sangat besar untuk kartu seukuran kartu pos itu. Tulisannya berbunyi “<em>Checker Table</em>”.  Baru kemudian saya berpikir, barangkali karena pekerjaannya adalah menge-check meja (dalam bahasa Inggris disebut table), ia disebut <em>checker table</em>.<br />
<span id="more-816"></span></p>
<p>Jika memang begitu, logikanya sih benar tapi yang mereka lakukan kurang tepat. Mereka lupa bahwa bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki aturan yang berbeda. Kedua bahasa tersebut memiliki aturan yang berbeda dalam pembentukan frasa. Pembentukan frasa dalam bahasa Indonesia mengikuti pola penempatan kata inti yang diikuti kata sifat atau kata keterangan, misalnya wanita cantik, sangat keras, dan sangat sulit. Sedangkan pembentukan frasa dalam bahasa Inggris sebagian besar dilakukan dengan menempatkan kata inti sebelum kata sifat atau kata keterangan. Contoh frasa yang dibentuk dengan cara ini adalah <em>beautiful lady, very hard,</em> dan <em>extremely difficult</em>. Sebagian kecil frasa dibentuk dengan cara menempatkan kata sifat setelah kata inti, misalnya <em>someone special</em>.</p>
<p>Dan, sependek pengetahuan saya, frasa yang tertera dalam judul di atas tidak mengikuti pola kedua. Layak dipikirkan sejenak, apakah tetap mempertahankan “<em>Checker Table</em>” atau mengubahnya menjadi “<em>Table Checker</em>”. Hmm&#8230; Biarlah pemilik restoran yang berpikir. Barangkali tugas saya di situ memang hanya bersantap.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utamiutar.boogoor.com/2011/12/table-checker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Absensi</title>
		<link>http://utamiutar.boogoor.com/2011/11/absensi/</link>
		<comments>http://utamiutar.boogoor.com/2011/11/absensi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 16:26:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utami utar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[absensi dan presensi]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan semantik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utamiutar.boogoor.com/?p=814</guid>
		<description><![CDATA[Terjadi lagi. Saya membaca surat kabar berbahasa Indonesia dan sebagai orang Indonesia saya jadi bingung dibuatnya. Saya tidak tahu, apakah anda juga mengalami kebingungan yang sama. Di salah satu surat kabar nasional edisi hari ini, Senin, 21 November 2011 halaman 12 terdapat berita satu kolom dengan judul Absensi Anggota Dewan Bisa Diakses. Dalam berita itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terjadi lagi. Saya membaca surat kabar berbahasa Indonesia dan sebagai orang Indonesia saya jadi bingung dibuatnya. Saya tidak tahu, apakah anda juga mengalami kebingungan yang sama.<br />
<span id="more-814"></span><br />
Di salah satu surat kabar nasional edisi hari ini, Senin, 21 November 2011 halaman 12 terdapat berita satu kolom dengan judul Absensi Anggota Dewan Bisa Diakses. Dalam berita itu, kata absensi dipakai sebanyak sembilan kali, termasuk dalam judul.  Kata absensi sudah masuk dalam KBBI dengan arti ketidakhadiran (2008: 3). Yang membuat saya bingung adalah kerancuan pemakaiannya.  </p>
<p>Kesembilan kalimat dengan kata absensi dalam artikel tersebut adalah sebagai berikut. (1) Absensi Anggota Dewan Bisa Diakses (judul). (2) Badan Kehormatan (BK) DPR akan menyediakan akses absensi anggota DPR kepada public. (3) Untuk tahap awal, akses absensi disediakan untuk rapat paripurna. (4) Mulai minggu depan (hari ini) di BK akan disediakan salinan absensi anggota dewan untuk rapat paripurna. (5) Politikus PDIP itu meminta absensi pada rapat paripurna dapat ditutup ketika rapat dimulai. (6) Di sisi lain, Ketua DPR Marzuki Alie mengatakan pihaknya tengah menyiapkan absensi elektronik untu meminimalkan ketidaksisiplinan anggota DPR. (7) Absensi itu akan diumumkan kepada publik. (8) Sedang dipersiapkan finger print untuk absensi elektronik. (9) Absensi itu, kata Marzuki, untuk tahap awal diutamakan untuk mencatat kehadiran dalam rapat paripurna.  </p>
<p>Memang, dalam pemakaiannya, kalimat yang dihasilkan oleh penutur dapat saja mengandung kesalahan akibat pelanggaran kaidah morfologis, sintaksis, dan semantis (Cook, 1993). Saya pribadi berpendapat kerancuan di atas adalah kesalahan pada tataran semantik, karena yang terjadi adalah kekurangtepatan penggunaan kata absensi yang justru bermakna sebaliknya. Dalam berita itu, barangkali yang dimaksud adalah daftar hadir. Kalau absen, bagaimana mungkin bisa diambil sidik jarinya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utamiutar.boogoor.com/2011/11/absensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendadak Megalitik</title>
		<link>http://utamiutar.boogoor.com/2011/11/mendadak-megalitik-2/</link>
		<comments>http://utamiutar.boogoor.com/2011/11/mendadak-megalitik-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 04:01:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utami utar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misc]]></category>
		<category><![CDATA[bogor]]></category>
		<category><![CDATA[gunung salak]]></category>
		<category><![CDATA[jaman megalitik]]></category>
		<category><![CDATA[peninggalan purbakala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utamiutar.boogoor.com/?p=805</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu saya diajak sahabat saya, WKF, mengikuti acara napak tilas yang diselenggarakan Komunitas Napak Tilas yang memiliki slogan &#8220;Nyukcruk galur mapay laratan&#8221; dalam ekspedisi bertajuk Napak Tilas VI: Jejak Tradisi Megalitik di Gunung Salak. Dan seperti sebuah kebetulan, ajakan ini datang tatkala saya absen jalan pagi dan senam selama beberapa minggu. Hitung-hitung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu saya diajak sahabat saya, <a href="http://wongkamfung.boogoor.com/">WKF</a>, mengikuti acara napak tilas yang diselenggarakan Komunitas Napak Tilas yang memiliki slogan &#8220;Nyukcruk galur mapay laratan&#8221; dalam ekspedisi bertajuk Napak Tilas VI: Jejak Tradisi Megalitik di Gunung Salak. Dan seperti sebuah kebetulan, ajakan ini datang tatkala saya absen jalan pagi dan senam selama beberapa minggu. Hitung-hitung rapel olah raga.</p>
<p><span id="more-805"></span></p>
<p>Karena menemui beberapa kendala kecil, kami terlambat sampai di tempat. Tali <em>backpack</em> masuk ke rantai motor dan beberapa acara pernikahan menyebabkan kami terhenti dan mencari jalan alternatif. Kami bertemu di <em>meeting point</em> yang sudah disepakati, di halaman Tenjolaya Park. Ketika kami sampai, acara pengarahan dan berdoa sudah hampir selesai. Setelah <em>briefing</em>, rombongan yang terdiri dari teman-teman dari komunitas Napak Tilas, perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Bogor, dan dari Balai Pelestarian Peninggalan Prasejarah memulai perjalanan. </p>
<p>Ada beberapa situs megalitik di lereng Gunung Salak, namun kerana terbatasnya waktu tak semuanya kami kunjungi. Situs-situs ini sebagian besar berupa menhir, yang oleh masyarakat sekitar disebut batu tangtung. Sedangkan lingkungan situs itu sendiri terkenal dengan sebutan kuburan si kabayan, justru karena mereka tidak jelas tahu ada apa di area ini.</p>
<p>Situs pertama adalah Punden Pasir Manggis I. Dari halaman Tenjolaya Park kami menyusuri jalan setapak dalam arti yang sebenarnya. Bahkan untuk berjalanpun kami harus menyilangkan kaki secara bergantian. Dalam perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga jam ini ada tempat pemberhentian, yang terletak di tengah hutan pinus, untuk beristirahat sejenak.</p>
<p>Punden Pasir Manggis I menempati areal yang sempit dan diapit oleh tiga jurang. Situs ini berupa punden berundak tiga, berukuran 5&#215;3 meter dan menghadap ke utara. Di sini terdapat sekitar 14 menhir berbagai ukuran. Di sebelah bawah Punden Pasir Manggis I terdapat Punden Pasir Manggis II. Karena letaknya sebelum Punden Pasir Manggis I, Punden Pasir Manggis II sering diasumsikan sebagai teras Punden Pasir Manggis I. Punden ini hanya terdiri dari satu tingkat, dengan batu penyusun yang sudah hilang dan menhir tinggal dua buah.</p>
<p>Dari situs pertama kami berjalan menyusuri jalan setapak yang relatif lebih lebar dibanding jalan yang kami tempuh sebelumnya. Namun, karena hujan mengguyur Bogor dan sekitarnya pada malam sebelumnya, jalan setapak yang tertutupi daun-daun kering ini cukup berbahaya. Bahkan, beberapa di antara kami sempat terpeleset.</p>
<p>Komplek Batu Bergores, atau Batu Gores, terletak di lereng yang cukup terjal. di tempat ini juga terdapat banyak menhir berbagai ukuran. Di sekitar tempat ini juga terdapat mata air yang sangat jernih.</p>
<p>Situs selanjutnya adalah situs Cibalai. Masyarakat sering salah kaprah dengan menyebutnya sebagai komplek Arca Domas. Sebenarnya, komplek Arca Domas terletak di desa Sukamanah, kecamatan Megamendung kabupaten Bogor. Domas berasal dari bahasa Sunda kuno, dua omas. Omas sendiri artinya empat ratus. Jadi konon, di tempat ini terdapat sekitar 800 arca.  Padahal, setelah diinventarisir, hanya terdapat sekitar 100 arca. Sedangkan di tempat ini, sama seklai tidak ditemukan arca.</p>
<p>Situs Cibalai menempati area yang cukup luas dan merupakan punden berundak dengan komponen yang cukup lengkap. Teras utama berada di undakan paling tinggi dengan beberapa batu menhir di atasnya. Situs ini pertama kali dilaporkan oleh de Wilde (1830), Junghuhn (1844), Muler (1856) dan terakhir oleh NJ Krom dalam Rapporten Oudheidkundige (1914).</p>
<p>Dibanding situs-situs lain, situs Cibalai merupakan situs yang paling populer dans ering dikunjungi masyarakat. Bahkan wakil gubernur Jawa Barat saat ini juga sempat meninjau lokasi ini. Namun sayang, dari semua yang datang ke tempat ini tak semuanya memiliki niat yang sejalan dengan aspek pemeliharaan benda cagar budaya (BCB). Pada tahun 2008 sekelompok orang membuat prasasti palsu yang ditempatkan di situs ini.</p>
<p>Situs terakhir terletak di samping rumah penduduk, terdiri dari punden berundak dan beberapa batu menhir di atasnya, yang disebut Endong Kasang. Untuk menghindarkannya dari tangan-tangan yang tidak beranggungjawab, situs ini (dan situs Cibalai) dikelilingi dengan kawat berduri.</p>
<p>Perjalanan kami kali ini berakhir di sini. Ditemani hujan besar dengan petir yang menggelegar dan angin kencang kami kembali ke Bogor. Jas hujan yang kami pakai tak lagi mampu melindungi kami dari air hujan. Tapi badan yang menggigil kedinginan sedikit terhangatkan oleh semangkuk tongseng ayam yang sengaja kami cari sebelum kami tiba di rumah.</p>
<p>Perjalanan ini ibarat penyegaran jiwa dan raga. Badan saya segar karena bersentuhan dengan aroma gunung dan jiwa sayapun melihat sesuatu yang sebelumnya hanya pernah saya baca dari buku sejarah, menhir!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utamiutar.boogoor.com/2011/11/mendadak-megalitik-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Protected: Linguistic Statistics</title>
		<link>http://utamiutar.boogoor.com/2011/11/linguistic-statistics-2/</link>
		<comments>http://utamiutar.boogoor.com/2011/11/linguistic-statistics-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 12:12:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utami utar</dc:creator>
				<category><![CDATA[My English Class]]></category>
		<category><![CDATA[statistik]]></category>
		<category><![CDATA[statistik linguistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utamiutar.boogoor.com/?p=797</guid>
		<description><![CDATA[There is no excerpt because this is a protected post.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<form action="http://utamiutar.boogoor.com/wp-pass.php" method="post">
<p>This post is password protected. To view it please enter your password below:</p>
<p><label for="pwbox-797">Password:<br />
<input name="post_password" id="pwbox-797" type="password" size="20" /></label><br />
<input type="submit" name="Submit" value="Submit" /></p></form>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utamiutar.boogoor.com/2011/11/linguistic-statistics-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serahkan kepada ahlinya</title>
		<link>http://utamiutar.boogoor.com/2011/11/serahkan-pada-ahlinya/</link>
		<comments>http://utamiutar.boogoor.com/2011/11/serahkan-pada-ahlinya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 04:27:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utami utar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misc]]></category>
		<category><![CDATA[konferensi internasional penerjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[tiket jakarta-brisbane]]></category>
		<category><![CDATA[visa australia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utamiutar.boogoor.com/?p=736</guid>
		<description><![CDATA[Begitulah ungkapan yang sering saya dengar dan baru-baru ini saya membuktikan kebenarannya. Sesuatu yang ditangani oleh ahlinya memang lebih efisien. Bukan hanya hemat waktu, ternyata bisa juga menghemat tenaga dan uang. Lega sekali rasanya setelah tiket yang saya perlukan ada di tangan. Semua bisa selesai dalam waktu yang relatif singkat dan ternyata jumlah yang harus saya bayar lebih sedikit dibanding jika saya mencarinya sendiri. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begitulah ungkapan yang sering saya dengar dan baru-baru ini saya membuktikan kebenarannya. Sesuatu yang ditangani oleh ahlinya memang lebih efisien. Bukan hanya hemat waktu, ternyata bisa juga menghemat tenaga dan uang. Lega sekali rasanya setelah tiket yang saya perlukan ada di tangan. Semua bisa selesai dalam waktu yang relatif singkat dan ternyata jumlah yang harus saya bayar lebih sedikit dibanding jika saya mencarinya sendiri.</p>
<p><span id="more-736"></span></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kabar bahwa proposal yang saya ajukan untuk menjadi salah satu pembicara di konferensi internasional disetujui pihak penyelenggara. Dalam <a href="http://www.slccs.uq.edu.au/indextesting.html?page=156662&amp;pid=70702">International Conference on Translation and Cross-cultural Communication</a> yang diselenggarapan di Brisbane tanggal 1-2 Desember 2011 itu saya mengambil topik <em>cultural untranslatability</em>. Dan sejak saat itu, proses pengurusan segala sesuatunya pun saya mulai.</p>
<p>Pertama, saya harus membuat paspor. Maklum, selama ini yang saya punya baru KTP. Selanjutnya, saya mengurus visa di <a href="http://www.vfs-au-id.com/">pusat aplikasi visa Australia</a> di ASIA Plaza Jalan Jend. Sudirman Jakarta, yang Alhamdulillah prosesnya tidak mengalami hambatan yang berarti. Walaupun sempat mengalami gangguan koneksi internet, visa selesai dalam waktu dua hari. Baru kemudian setelah paspor dan visa beres, saya berani mulai cari tiket.</p>
<p>Nah, proses pencarian tiket inilah yang lumayan menyita pikiran saya. Karena saya dijadwalkan untuk presentasi tanggal 1 Desember, saya harus berangkat paling telat tanggal 29 November. Mulailah saya berburu, dimulai dari biro perjalanan yang tak terlalu besar. Untuk mencari infonya saja mereka perlu waktu berjam-jam. Hasilnya? Saya harus menyetujui dulu waktu penerbangan yang ada dan saya harus membayar berapapun harga tiket yang akan keluar pada saat mereka menekan tombol enter. Tidak adil.</p>
<p>Sepulang dari biro itu saya coba cari sendiri, berburu info tiket dari berbagai maskapai penerbangan. Hasilnya macam-macam. Ada yang mengharuskan saya transit di Singapura, Kuala Lumpur, dan Hongkong. Akhirnya pilihan tertuju pada penerbangan dengan transit di Singapura.</p>
<p>Tibalah saat yang paling penting: pembayaran. Mereka menyediakan pilihan pembayaran dengan kartu debit dan kredit. Lucunya, ternyata kartu kredit yang saya gunakan memiliki plafond kredit di bawah harga tiket. Pilihan kedua, saya pakai kartu debit. Masalahnya, pada kartu debit saya tidak tercetak nama saya.</p>
<p>Sempat saya menghubungi seorang teman yang bergerak di bidang biro perjalanan di Lombok, barangkali bisa membantu saya. Hasilnya? Karena yang mencari tiket bukan dirinya sendiri, tiket yang didapat untuk penumpang dari Mataram. Saya juga meminta tolong kepada teman yang ada di Bogor. Ternyata <em>ticketing agent </em>miliknya baru bisa melayani maskapai domestik.</p>
<p>Setelah mencoba sendiri dengan hasil nihil, akhirnya saya pergi ke biro perjalanan yang lebih besar. Dan yang membuat segalanya jadi mudah adalah, saya sudah tahu hari, tanggal, jam dan penerbangan apa yang saya cari. Mereka menyambut saya sengan senyum standar. Tapi tak apalah, karena ternyata pelayanan yang diberikannya cukup membantu. Dalam hitungan menit, tiket Jakarta-Brisbane pp sudah ada di tangan saya.</p>
<p>Terima kasih <a href="http://www.panorama-tours.com/">Panorama Tours</a>. Semoga perjalanan saya akhir bulan ini lancar jaya sehat sentosa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utamiutar.boogoor.com/2011/11/serahkan-pada-ahlinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Auctor intellectualis</title>
		<link>http://utamiutar.boogoor.com/2011/08/auctor-intellectualis/</link>
		<comments>http://utamiutar.boogoor.com/2011/08/auctor-intellectualis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 01:52:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utami utar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[aktor intelektual]]></category>
		<category><![CDATA[auctor intellectualis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utamiutar.boogoor.com/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Sumpah, saya baru tahu kalau ternyata telah terjadi pergeseran makna frase auctor intelectualis yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi actor intelektual. Ah, ke mana saja saya selama ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumpah, saya baru tahu kalau ternyata telah terjadi pergeseran makna frase auctor intelectualis yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi aktor intelektual. Ah, ke mana saja saya selama ini.<br />
<span id="more-724"></span></p>
<p>Mulanya kata tersebut bermakna otak di balik sebuah peristiwa, tidak selalu yang bersifat kriminal. Sedangkan dewasa ini  frase tersebut sering kali dipakai hanya untuk merujuk orang yang bertanggung jawab dalam sebuah peristiwa kriminal saja. Dalam berita mengenai pementasan music dengan bintang ternama misalnya, tak akan dipakai istilah actor intelektual. Namun, bila beritanya tentang kerusuhan dalam perhelatan itu barulah orang akan memakai istilah actor intelektual.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utamiutar.boogoor.com/2011/08/auctor-intellectualis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

